Jumat, 28 Maret 2014

Makalah Pidato



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Pidato merupakan kegiatan berbicara yang telah kita lakukan di depan umum. Namun, tidak semua orang dapat melakukan hal tersebut. Hal itu karena ketidakpastian ataupun tidak adanya pengalaman berbicara di hadapan orang banyak meskipun pada dasarnya setiap orang dapat berbicara.
Di era globalisasi saat ini kemampuan untuk berbicara sangat dibutuhkan baik berbicara dalam konteks resmi maupun tidak karena seseorang mampu menyampaikan apa yang dikehendakinya melalui bicara.Kemampuan seseorang untuk berbicara biasanya tidak sama tergantung bagaimana orang tersebut mampu berfikir secara kritis dalam menghasilkan kata-kata sehingga masih banyak orang yang sulit untuk berbicara di depan umum dalam menyampaikan sesuatu.Hal ini disebabkan oleh kefasihan seseorang dalam berbicara dan memilih kata-kata untuk diungkapkan.
Berpidato merupakan monologika, yaitu ilmu tentang seni berbicara secara monolog. Hanya satu orang yang berbicara kepada sekelompok orang. Seni berpidato dimiliki seseorang pada umumnya diperoleh melalui proses belajar secara intensif melalui kursus dan pelatihan-pelatihan. Jalaluddin Rakhmat mengatakan bahwa kemampuan berbicara bisa merupakan bakat. Tetapi kemampuan berbicara baik memerlukan pengetahuan dan latihan (Rakhmat, 2000 : 2).
Pidato lebih identik dengan penuturan kata-kata yang teratur diimbangi dengan olah vokal dan visual yang mendukung terciptanya suasana kondusif merupakan ciri-ciri dari seni kata-kata yang kita kenal dengan retorika atau ilmu berbicara dengan baik yang telah berumur setua kehidupan manusia.
Kemampuan mengolah kata dan penguasaan lapangan sangat mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam menyampaikan pesan secara efektif sesuai dengan tujuan yang ia targetkan, menjadi permasalahan yang terus berkembang dalam masyarakat sehingga penguasaan materi dan lapangan menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan berpidato.
B.  Rumusan Masalah
Dari ulasan latar belakang di atas maka beberapa yang dapat kami rumuskan dan akan di bahas dalam makalah ini adalah:
1.    Apakah pengertian pidato?
2.    Apa peranan pidato itu?
3.    Apa saja metode pidato itu?
4.    Apa yang harus dipersiapkan sebelum pidato?
5.    Bagaimana topik dan judul itu?
6.    Apaka tujuan dari pidato tersebut?

C.  Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah antara lain:
1.    Untuk mengetahui pengertian pidato.
2.    Untuk mengetahui peranan pidato.
3.    Untuk mengetahui metode pidato.
4.    Untuk mengetahui persiapan sebelum pidato.
5.    Untuk mengetahui topik dan judul pidato.
6.    Untuk mengetahui tujuan pidato.









BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Pidato
Pidato ialah kegiatan berbahasa lisan.[1]Pidato adalah suatu ucapan dengan susunan yang baik untuk disampaikan kepada orang banyak. Contoh pidato yaitu seperti pidato kenegaraan, pidato menyambut hari besar, pidato pembangkit semangat, pidato sambutan acara atau event, dan lain sebagainya.
Pidato yang baik dapat memberikan suatu kesan positif bagi orang-orang yang mendengar pidato tersebut. Kemampuan berpidato atau berbicara yang baik di depan publik / umum dapat membantu untuk mencapai jenjang karir yang baik.[2]

B.     Peranan Pidato
Peranan pidato, ceramah, penyajian penjelasan lisan kepada suatu kelompok massa merupakan suatu hal yang sangat penting, baik pada waktu sekarang maupun pada waktu-waktu yang akan datang. Dalam sejarah umat manusia dapat dicatat betapa keampuhan penyajian lisan mengubah sejarah umat manusia atau sejarah suatu bangsa. Penyajian lisan dapat berguna bagi masyarakat, untuk mengembangkan suatu tingkat kebudayaan yang lebih tinggi dan lebih luhur. Tetapi sebaiknya keahlian bicara itu menenggelamkan umat manusia beserta nilai-nilai dan hasil-hasil kebudayaannya. Sebab itu sebagai seorang mahasiswa harus berusaha pula memiliki kemahiran mengungkapkan pikiran secara lisan atau dengan singkat penyajian lisan, bukan saja menghendaki penguasaan bahasa yang baik dan lancar, tetapi disamping itu menghendaki pula persyaratan-persyaratan lain.[3]
Dahulu kala Indonesia mempunyai seorang yang sangatlah hebat dalam hal pidato atau  biasa kita panggil bapak proklamator yaitu Ir.soekarno. bangsa indonesia seakan terhipnotis bila mereka semua mendengarkan bapak proklamator itu, badan dan tubuh pun seakan akan ingin bangkit dan akhirnya pun bangsa indonesia ini bisa  bangkit dari para penjajah.
Seorang tokoh dalam masyarakat, seorang pemimpin, lebih-lebih lagi seorang sarjana atau ahli harus memiliki pula keahlian untuk menyajikan pikiran dan gagasannya secara oral. Seorang tokoh atau pemimpin yang tidak bisa berbicara di depan umum akan menjauhkan dirinya sendiri dari masyarakat yang di pimpinnya ia tidak sanggup mengadakan komunikasi langsung dengan anggota-anggota masyarakatnya.[4]

C.    Metode Pidato
Di dalam kegiatan berpidato, dikenal empat macam metode berpidato. Metode berpidato tersebut antara lain[5]:
1.      Impromtu (serta-merta)
Dalam metode ini pembicara menggunakan cara spontanitas (improvisasi), biasanya digunakan untuk pidato yang sifatnya mendadak dan disajikan menurut kebutuhan saat itu.
a.          Kekurangan
1)      Materi kadang tidak disampaikan secara urut / sistematis.
2)      Mendadak.
3)      Kurang persiapan, sehingga kemungkinan ada yang terlupa.
4)      Menimbulkan kesimpulan yang mentah.
5)      Mengakibatkan penyampaian tidak lancar.
6)      Demam panggung.
b.         Kelebihan
1)      Bahasanya singkat sehingga tidak membosankan.
2)      Bebas memilih topik.
3)      Gagasan datang secara spontan.
4)      Lebih mengungkapkan perasaan pembaca.

2.      Memoriter (menghafal)
Metode ini merupakan lawan dari metode pertama diatas. Penyajian lisan yang dibawakan dengan metode ini bukan saja direncanakan, tetapi ditulis secara lengkap kemudian dihafal kata demi kata. Cara ini juga akan menyulitkan pembicara untuk menyesuaikan dirinya dengan situasi dan reaksi-reaksi pendengar selagi menyajikan gagasannya.
a.          Kekurangan
1)      Bila lupa akan mempengaruhi isi pidato
2)      Membosankan
3)      Suara monoton
b.         Kelebihan
1)      Melatih daya ingat
2)      Tersusun secara sistematis

3.      Ekstemporan (tanpa persiapan naskah)
Merupakan pidato sudah dipersiapkan sebelumnya berupa garis besar dan pokok penunjang pembahasan (supporting points), tetapi pembicara tidak berusaha mengingatnya kata demi kata.
a.       Kekurangan
1)        kemungkinan menyimpang dari garis besar
2)        kefasihan terhambat karena kesukaran memilih kata
b.      Kelebihan
1)        Komunikasi pembicara dengan pendengar lebih baik
2)        Pesan dapat fleksibel

4.      Manuskrip (naskah)
Merupakan pidato dengan naskah. Di sini tidak berlaku istilah ‘menyampaikan pidato’ tapi ‘membacakan pidato’. Manuskrip dibutuhkan oleh tokoh nasional, sebab kesalahan sedikit saja dapat menimbulkan kekacauan nasional[6].
a.  Kekurangan
1)      komunikasi pendengar akan berkurang karena pembicara tidak berbicara langsung pada mereka
2)      pembicara tidak dapat melihat pendengar dengan baik
3)      pembuatannya lebih lama
b.  Kelebihan
1)      kata-kata dapat dipilih sebaik-baiknya
2)      pernyataan dapat dihemat
3)      kefasihan bicara dapat dicapai
4)      tidak ngawur
5)      manuskrip dapat diperbanyak

Dari keempat metode berpidato tersebut, yang paling populer digunakan adalah metode ekstemporan. Kelebihan metode ekstemporan antara lain membuat pidato lebih runtut dan sistematis, menghindari pengulangan bahasan yang telah disampaiakn di awal, serta menghindari ketertinggalan poin-poin penting karena faktor lalai atau lupa sehingga tidak sempat disampaian.
Agar pidato Anda dapat menarik minat dan perhatian pendengar, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a)      Kemukakan fakta dengan jelas
b)      Gunakan bahasa Indonesia yang baik sehingga mampu membangkitkan minat pendengar terhadap masalah yang kita sampaikan
c)      Berbicara secara wajar dan terbuka
d)     Sajikan materi dengan lafal dan intonasi yang tepat
e)      Gunakan mimik dan gerak-gerik secara wajar

D.    Persiapan Pidato
Tidak semua orang memahami cara berpidato yang baik, yang biasa menyampaikan materi pidato dengan tepat sasaran tanpa harus mengalami demam panggung. Sebelum berpidato ada beberapa hal penting yang harus dipersiapkan.  Persiapan ini memainkan peranan yang sangat penting dalam mendukung keberhasilkan dalam berpidato.
Persiapan pidato itu antara lain adalah sebagai berikut[7]:
1.    Menentukan Tujuan Pidato
Tujuan dalam berpidato harulah jelas, untuk apa kamu berpidato, apakah memberitahu, menghibur atau membujuk. Selain itu juga harus merumuskan dengan jelas tujuan khususnya, yaitu tanggapan apa yang diharapkan setelah pidato itu selesai.

2.    Memilih dan Menyampaikan Pokok Persoalan
Terkadang pokok persoalan sudah ditentukan oleh panitia sebelumnya, terkadang pun sang pembicara juga diberikan kebebasan untuk memilih pokok persoalan dalam berpidato. Tapi walaupun persoalan itu sudah ditentukan atau belum, pembicara wajib menyempitkan pokok persoalan ini, untuk disesuikan dengan kesanggupannya atau kemampuannya, minatnya dan waktu yang disediakan untuk berpidato.

3.    Menganalisis Pendengar dan Suasana
Pembicara harus berusaha mengetahui siapa yang akan menjadi pendengarnya. Jumlah mereka banyak atau sedikit, mereka umumnya tergolong terpelajar atau tidak, bagaimana suasana dalam pidato nanti, apakah hadirin duduk atau berdiri, pagi atau siang, di salam ruangan atau di tanah lapang, dan sebagainya. Semua itu harus diperhitungkan agar pidatonya bisa berhasil.

4.    Mengumpulkan Bahan
Pembicara dapat mengumpulkan bahan yang sesuai dengan pokok masalah yang akan disampaikan melalui banyak cara, diantaranya adalah:
a)        Membaca buku, majalah, koran dan sumber sumber pengetahuan lain yang sesuai dengan pokok masalah yang akan di sampaikan.
b)       Berusaha menambah wawasan atau bertanya kepada orang yang lebih tahu
c)        Mengingat kembali pengamalaman pribadi yang relevan

5.    Membuat Kerangka
Berdasarkan bahan bahan yang berhasil dikumpulkan itu lalu disusun pokok-pokok yang akan dibicarakan menurut urutan yang baik. Di bawah pokok-pokok utama tadi diadakan perincian lebih jauh, dengan itu pengertian bahwa bagian-bagian yang terperinci itu harus memperjelas pokok-pokok utama tadi.

6.    Menguraikan secara Mendetail
Setelah kerangka selesai disusun, maka pembicara bebas memilih, yaitu berbicara bebas dengan sekali-kali melihat kerangka (metode ekstemporan), atau menggarap pidato secara lengkap kata demi kata, kemudian dibacakan atau dihafalkan (metode naskah atau metode menghafal). Jadi, cara menguraikan kerangka pidato itu tergantung pada metode apa yang dipilih.

7.    Melatih dengan Suara Nyaring
Setelah semua persiapan selesai, pembicara sudah bisa mulai latihan berpidato dengan suara keras seperti yang akan dilakukan dalam pidato yang sesungguhnya.

E.     Topik dan Judul
Pengertian topik adalah berasal dari bahasa Yunani “topoi” yang berarti tempat, dalam tulis menulis bebarti pokok pembicaraan atau sesuatu yang menjadi landasan penulisan suatu artikel.[8]
Topik atau masalah adalah pokok pembicaraan. Menurut Kridalaksana topik adalah bagian kalimat yang diutamakan dari beberapa hal yang mengikutinya; kerangka yang bersangkutan dengan ruang, waktu, dan benda. Keraf mengatakan, penulis lebih baik menulis hal-hal yang sifatnya menarik bagi penulis sendiri dengan pokok persoalan yang benar-benar diketahui dan dipahami daripada menulis pokok-pokok yang tidak menarik atau tidak diketahui.[9]
Seringkali kita susah untuk mencari topik yang baik, seakan dunia ini kering bahan pembicaraan. Seseorang punya keahlian tertentu maka jadikanlah itu sebagai topik pembahasan yang bermutu.
Contoh: Afgan mungkin akan susah menjelaskan tentang patologi tetapi ia mengetahui benar bagaimana teknik bernyanyi yang benar itu.
Sumber topik misalnya:
1)      Pengalaman pribadi
2)      Hobby dan keterampilan
3)      Pengalaman kerja atau profesi
4)      Pelajaran sekolah atau kuliah
5)      Pendapat pribadi
6)      Peristiwa hangat/pembicaraan publik
7)      Masalah abadi
8)      Kilasan biografi
9)      Kejadian khusus
10)  Minat khalayak

Kriteria Topik yang Baik
a)      Topik harus sesuai dengan latar belakang pengetahuan anda. Anda harus mengetahui lebih banyak dari pada pendengar.
b)      Topik harus menarik minat anda.
c)      Topik harus menarik minat pendengar.
d)     Topik harus sesuai dengan pengetahuan pendengar.
e)      Topik harus terang ruang-lingkup dan pembatasannya.
f)       Topik harus sesuai dengan waktu dan ilustrasinya.
g)      Topik harus dapat ditunjang dengan bahan yang lain.

Merumuskan Judul
Yang erat hubungannya dengan topik adalah judul. Judul adalah nama yang diberikan untuk pokok bahasan yang disampaikan. Judul yang baik itu adalah:
a)         Relevan    : ada hubungan dengan pokok-pokok bahasan
b)        Provokatif            : menimbulkan hasrat ingin tahu dan antusianisme pendengar
c)         Singkat     : mudah ditangkap maksudnya, pendek, dan enteng diingatnya[10]

F.     Tujuan Pidato
Tujuan pidato tergantung dari keadaan yang dikehendaki oleh orator. Tujuan tersebut dapat dibedakan atas tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum akan menimbulkan reaksi-reaksi yang bersifat umum. Sedangkan tujuan khusus diharapkan akan menimbulkan reaksi khusus pula.
Tujuan pidato biasanya untuk mendorong pendengar, meyakinkan pendengar, berbuat atau bertindak, memberitahukan dan menyenangkan.
a.         Mendorong pendengar
Tujuan pidato dikatakan mendorong bila pembicara berusaha untuk memberi semangat, membangkitkan kegairahan atau menekan perasaan yang kurang baik serta menunjukan rasa hormat dan pengabdian. Reaksi-reaksi yang diharapakan adalah dapat membakar emosi para pendengar.
Contohnya:
Pidato Menteri Kesejahteraan Rakyat tentang bencana gunung meletus di Jambi bertujuan untuk mendorong semangat bangsa Indonesia bersedia mengorbankan sedikit dari miliknya untuk membantu meringankan beban para korban gempa.

b.        Meyakinkan pendengar
Seorang orator berusaha untuk mempengaruhi keyakinan atau sikap mental para pendengar, maka pidato seperti itu bertujuan untuk meyakinkan. Bahasa yang digunakan bersifat persuasif,  isi pidatonya disertai bukti-bukti dan contoh-contoh yang konkrit. Dengan demikian reaksi yang diharapakan dari para pendengar adalah timbulnya persesuaian pendapat atau keyakinan atas persoalan yang dibawakan. Misalnya seorang Juru Kampanye sewaktu berkampanye.

c.         Berbuat atau bertindak
Tujuan persentasi lisan adalah untuk berbuat dan bertindak bila pembicara menghendaki beberapa macam tindakan atau reaksi fisik dari para pendenga. Reaksi atau tindakan yang diharapkan ini dapt berbentuk seruannya atau tidak dapat pula menandatangani sebuah petisi, membuat parade atau mengadakan demonstrasi. Dasr dari tindakan-tindakan tersebut adalah keyakinan yang mendalam atau terbakar emosinya, atau kedua-duanya. Oleh karena itu, dalam garis besarnya uraian semacam ini dapat berjalan sejajar dengan maksud seperti di atas.

d.        Memberitahukan
Pidato yang bertujuan untuk memberitahukan adalah apabila pembicara ingin memberitahukan atau menyampaikan suatu hal yang belum atau yang kurang diketahui para pendengar untuk memperluas bidang pengetahuan mereka. Seorang pemimpin memberitahukan dan menguraikan bagaimana langkah-langkah yang akan ditempuh dalam organisasi. Seorang dosen memberi pengajaran dan perkuliahan semuanya bertujuan memberitahukan sesuatu. Reaksi yang diinginkan dari jenis uraian ini ialah agar para pendengar mendapat pengertian yang tepat, menambah pengetahuan mereka tentang hal-hal yang kurang atau belum diketahuinya.

e.         Menyenangkan
Pidato haruslah dapat menimbulkan suasana gembira atau menyenangkan bagi para pendengarnya. Kesegaran pembicaraan dan humor merupakan alat yang sanghat penting dalam penyampaian uraian. Reaksi yang diharapkan dari pertemuan tersebut adalah dapat menimbulkan kegembiraan dan kesenangan kepada para pendengar.
Pidato seperti ini biasanya dilaksanakan pada jamuan-jamuan, pesta-pesta atau perayaan-perayaan dan pertemuan gembira lainnya.[11]









BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

B. Saran










DAFTAR PUSTAKA

AR, Nursalim.2007. Pengantar Pengetahuan Berbahasa Indonesia Berbasis Kompetensi. Pekanbaru: Infinite
Karyanto, Budi. 2009. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi.Pekalongan: STAIN Pekalongan Press





[1] E.Zaenal Arifin dan S. Imran Tasai, Cermat Berbahasa Indonesia. (Jakarta: Akademika Presindo,2009), hlm. 228.
[3] Virtual Live, (http://gondress.blogspot.com/2011/11/tugas-ragam-pidato.html), diunduh pada hari Minggu, 19 Mai 2013.
[5] Sukses Pidato, (http://cara-pidato.blogspot.com/2008/07/metode-pidato.html), diunduh pada hari Jum’at, 10 Mei 2013.
[6] Neng Hepi, Makalah tentang Pidato, (http://nenghepi.blogspot.com/2011/08/makalah-tentang-pidato.html), diunduh pada hari Jum’at 10 Mei 2013.
[8] Yukfuk, Topik, Tema, Judul. (http://yukfuk.wordpress.com/2011/06/11)
[9] Umum Budi Karyanto, Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi, (Pekalongan:STAIN Pekalongan Press, 2009), hlm. 70
[10] Miniatur Hidup, Persiapan Pidato, (http://sugaraypark.blogspot.com/2012/10/persiapan-pidato.html), diunduh pada hari Kamis, 23 Mei 2013.
[11] Nursalim AR, Pengantar Pengetahuan Berbahasa Indonesia Berbasis Kompetensi, (Pekanbaru: Infinite, 2007), hlm. 113-115