Jumat, 24 Mei 2013

Kalimat Efektif



TUGAS TERSTRUKTUR                                             DOSEN PENGAMPU
Dalam Mata Kuliah Bahasa Indonesia                                     H. Rushan, M.Pd



KALIMAT EFEKTIF

Oleh:
KELOMPOK  2

1.   Dessy Fitriani                   : 11215202476
2.   Fattiya Nurpiddiyana       : 11215204596
3.   Gustiana Roza                  : 11215201379
4.   Milla Eka Putri                 : 11215201324
5.   Nining Astuti                    : 11215200453
6.   Nita Anggraini                  : 11215201572

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika
Semester (2) D
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim
RIAU
Tahun 2012/2013




BAB I
                                                           PENDAHULUAN        
1.1  Latar Belakang
            Tujuan tulis-menulis atau karang-mengarang adalah untuk mengungkapkan fakta-fakta, perasaan, sikap, dan isi pikiran secara jelas dan efektif kepada para pembaca. Sebab itu ada beberapa persoalan yang harus diperhatikan untuk mencapai penulisan yang efektif, misalnya, pertama-tama pengarang harus mempunyai suatu onjek yang ingin dibicarakan; bila ia sudah menemukan objek itu, maka ia harus memikirkan dan merenungkan gagasan-gagasan utamanya secara segar, jelas, dan terperinci.
Kalimat merupakan suatu bentuk bahasa yang mencoba menyusun dan menuangkan gagasan-gagasan seseorang secara terbuka untuk dikomunikasikan kepada orang lain. Tetapi apakah dengan menguasai pola-pola kalimat suatu bahasa seseorang sudah merasa yakin bahwa ia telah menguasai bahasa itu dengan baik?
Dalam komunikasi sehari-hari, kita memerlukan bahasa sebagai medium, karena ia memberikan kemungkinan yang sangat luas bila dengan cara-cara lain, misalnya gerak-gerik, isyarat, isyarat dengan bendera atau panji, asap, dan sebagainya.
Sebuah kalimat yang efektif mempersoalkan bagaimana ia dapat mewakili secara tepat isi pikiran atau perasaan pengarang, bagaimana ia dapat mewakilinya secara segar, dan sanggup menarik perhatian pembaca dan pendengar terhadap apa yang dibicarakan. Kalimat yang efektif memiliki kemampuan atau tenaga untuk menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca identik dengan apa yang dipikirkan pembicara atau penulis. Disamping itu kalimat yang efektif selalu tetap berusaha agar gagasan pokok selalu mendapat tekanan atau penonjolan dalam pikiran pembaca atau pendengar.
Jadi yang dimaksud dengan kalimat yang efektif adalaha kalimat yang memenuhu syarat-syarat berikut:
(1)   Secara tepat dapat mewakili gagasan atau perasaan pembicara atau penulis
(2)   Sanggup menimbulkan gagasan yang sama tepatnya dalam pikiran pendengar atau pembaca seperti yang dipikirkan oleh pembicara atau penulis.

            Beda kedua syarat ini dipenuhi maka tidak mungkin akan terjadi salah paham antara mereka yang terlibat dalam komunikasi.



1.2  Rumusan Masalah
Dari ulasan latar belakang di atas maka beberapa yang dapat kami rumuskan dan akan di bahas dalam makalah ini adalah :
1.2.1 Apakah pengertian kalimat efektif ?
1.2.2 Bagaimanakah kesatuan gagasan?
1.2.3.Bagaimana koherensi yang baik dan kompak?
1.2.4 Bagaimana variasi dalam kalimat efektif?
1.2.5 Bagaimana penekanan dalam kalimat efektif?
1.2.6 Apa yang dimaksud dengan paralelisme?
1.2.7 Bagaimana penalaran dalam kalimat efektif?

1.3  Tujuan
1.3.1        Tujuan Penulisan Makalah
a.       Untuk mengetahui penegrtian kalimat efektif
b.      Untuk mengetahui struktur kesatuan gagasan
c.       Untuk mengetahui koherensi yang baik dan kompak
d.      Untuk mengetahui variasi dalam kalimat efektif
e.       Untuk mengetahui penekanan dalam kalimat efektif
f.       Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan paralisme
g.      Untuk mengetahui penalaran dalam kalimat efektif

1.3.2         Kegunaan Penulisan Makalah
a.       Bagi Penulis
Penulisan makalah ini disusun sebagai salah satu pemenuhan tugas terstruktur dari matakuliah Akhlak
b.      Bagi Pihak Lain
Makalah ini diharapkan dapat menambah referensi pustaka yang berhubungan dengan “Profil luqman Alhakim , Pendidikan Akhlak dan Aplikasinya terhadap Peserta Didik.”





BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN KALIMAT EFEKTIF
Kalimat efektif ialah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang ada dalam pikiran pembicara atau penulis. Kalimat sangat mengutamakan keefektifan informasi itu sehingga kejelasan kalimat itu dapat terjamin.[1]
(Wiyanto, 2004:48) Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat menyampaikan pesan (informasi) secara singkat, lengkap, dan mudah diterima oleh pendengar. Yang dimaksud singkat adalah hemat dalam penggunaan kata-kata. Hanya kata-kata yang diperlukan yang digunakan. Sebaliknya, Kata-kata yang mubadzir tidak perlu digunakan. Penggunaan kata-kata mubadzir berarti pemborosan. Hal itu tentu bertentangan dengan prinsip kalimat efektif yang hemat.[2]
Meskipun hemat dalam penggunaan kata, Kalimat efektif tetap harus lengkap, Artinya kalimat itu harus disampaikan. Sedemikian lengkapnya sehingga kalimat efektif mampu menimbulkan pengaruh, meninggalkan kesan, atau menghasilkan akibat. Selanjutnya, kalimat efektif harus dapat dipahami pendengar dengan cara yanng mudah dan menarik. Selain itu, kalimat efektif harus mematuhi kaidah struktur bahasa dan mencerminkan cara berpikir yang masuk akal (logis).

B.     KESATUAN GAGASAN
Syarat kalimat efektif haruslah mempunyai struktur yang baik. Artinya, kalimat itu harus memiliki unsure-unsur subyek dan predikat, atau bisa ditambah dengan obyek, keterangan, dan unsur-unsur subyek, predikat, objek, keterangan, dan pelengkap, melahirkan keterpautan arti yang merupakan cirri keutuhan kalimat.
Contoh: Ibu menata ruang tamu tadi pagi.
               S       P             Pel              K

          
Dari contoh tersebut, kalimat ini jelas maknanya, hubungan antar unsur menjadi jelas sehingga ada kesatuan bentuk yang membentuk kepaduan makna. Jadi, harus ada keseimbangan antara pikiran atau gagasan dengan struktur bahasa yang digunakan.
Selanjutnya kalimat efektif itu harus disusun dengan mempertimbangkan dan memperhitungkan kesepadanan bentuk atau kesepadanan strukturnya.Adapun yang dimaksud dengan prinsip kesepadanan struktur adalah adanya keseimbangan antara ide atau pikiran yang dimiliki oleh seseorang dengan bentuk kalimat atau struktur kalimat yang digunakan .Prinsip kesepadanan struktur itu diantaranya adalah :

           1. Kalimat itu memiliki subjek dan predikat dengan jelas
Contoh :
a)      Bagi semua mahasiswa PMT D harus membayar uangkuliah(salah)
b)      Semua mahasiswa PMT D harus membayar uang kuliah(benar)

           2. Tidak adanya subjek ganda
           Contoh :
           a) Penyusunan laporan itu saya dibantu oleh para dosen(salah)
           b) Dalam menyusun laporan itu,saya dibantu oleh para dosen(benar)
          
           3. Kata penghubung intrakalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal
           Contoh :
           a)
          
           4. Predikat kalimat tidak didahului oleh kata yang
           Contoh :
           a)


C.     KOHERENSI YANG BAIK DAN KOMPAK
Yang dimaksud dengan koherensi atau kepaduan yang baik dan kompak adalah hubungan timbal balik yang baik dan jelas atara unsur-unsur (kata atau kelompok kata) yang membentuk kalimat itu. Yaitu hubungan antara subjek dan predikat, hubungan antara predikat dan objek serta keterangan-katerangan lain yang menjelaskan tiap-tiap unsur pokok tersebut.
Ada bagian-bagian kalimat yang memiliki hubungan yang erat sehingga tidak boleh dipisahkan, ada yang lebih renggang kedudukannya sehingga boleh ditempatkan dimana saja, asal tidak disisipkan diantara kata-kata atau kelompok kata yang erat hubungannya. Kesalahan yang seringkali merusakkan koherensi adalah penempatan kata depan, kata penghubung yang tidak sesuai atau tidak pada tempatnya.
Bila gagasan yang tidak berhubungan satu dengan lain disatukan, maka akan merusak kesatuan pikiran dan juga koherensi kalimat yang bersangkutan. Dalam kesatuan pikiran lebih ditekankan segi struktur, atau interelasi antara kata-kata yang menduduki sebuah tugas dalam kalimat. Sebab itu bisa terjadi bahwa sebuah kalimat dapat mengandung kesatuan pikiran, namun koherensinya tidak baik.[3]
a.      Koherensi rusak karena tempat kata dalam kalimat tidak sesuai dengan pola kalimat
TIDAK BAIK:
Adik saya yang paling kecil memukul dengan sekuat tenaganya kemarin pagi di kebun anjing.
Anjing kemarin pagi di kebun adik saya memukul dengan sekuat tenaga.

BAIK:
Adik saya yang paling kecil memukul anjing di kebun kemarin pagi, dengan sekuat tenaganya.

Demikian pula pemisahan saya yang paling kecil dari kata adik juga akan merusak koherensi kelompok kata dalam kalimat.

b.      Kepaduan sebuah kalimat akan rusak karena salah mempergunakan kata depan, kata penghubung, dsb
Contoh:
1.      Sejak lahir manusia memiliki jiwa untuk melawan kepada kekejaman alam, atau kepada pihak lain karena merasa dirinya lebih kuat (tanpa kepada)
2.      Interaksi antara perkembangan kepribadian dan perkembangan penguasa bahasa menentukan bagi pola kepribadian yang sedang berkembang (tanpa bagi)
c.       Kesalahan lain yang dapat merusak koherensi adalah pemakaian kata, baik karena merangkai dua kata yang maknanya tidak tumpang tindih atau hakekatnya mengandung kontradiksi
Contoh:
a.       Banyak para peninjau yang menyatakan bahwa perang yang sedang berlangsung itu merupakan perang dunia di timur tengah.
(Banyak peninjau atau para peninjau; maka banyak dan parah tidak tumpang tindih).

b.      Demi untuk kepentingan saudara sendiri, saudara dilarang merokok.
(demi kepentingan atau untuk kepentingan)

d.      Suatu kesalahan yang lain sering dilakukan sehubungan dengan persoalan koherensi atau kepaduan kalimat adalah salah menempatkan keterangan aspek (sudah, telah, akan, belum, dsb) pada kata kerja
Contoh:
SALAH
Buku itu saya sudah baca hingga tamat

BAIK
Buku itu sudah saya baca hingga tamat

D.    VARIASI
Untuk menghindari kebosanan dan keletihan saat membaca, diperlukan variasi dalam teks. Ada kalimat yang dimulai dengan subyek, predikat atau keterangan. Ada kalimat yang pendek dan panjang.
a). Variasi dalam Pembukaan Kalimat atau Cara Memulai
   Ada beberapa kemungkinan untuk memulai kalimat demi efektifitas, yaitu dengan variasi pada pembukaan kalimat. Dalam variasi pembukaan kalimat, sebuah kalimat dapat dimulai atau dibuka dengan :
ü  Frase keterangan (waktu, tempat, cara)
ü  Frase Benda
ü  Frase Kerja
ü  Partikel Penghubung
Contoh:
a)      Mang Usil dari kompas menganggap hal ini sebagai suatu isarat sederhana untuk bertransmigrasi (Frase benda)
b)      Dibuangnya jauh-jauh pikiran yang menghantuinya selama ini (Frase Kerja)
c)      Karena bekerja terlalu berat dia jatuh sakit (frase Penghubung)

Subyek pada awal kalimat.
Contoh:
Bahan biologis menghasilkan medan magnetis dengan tiga cara.

Predikat pada awal kalimat (kalimat inversi sama dengan susun balik)
Contoh:
Turun perlahan-lahan kami dari kapal yang besar itu.

Kata modal pada awal kalimat
Dengan adanya kata modal, maka kalimat-kalimat akan berubah nadanya, yang tegas menjadi ragu tau sebaliknya dan yagn keras menjadi lembut atau sebaliknya.
Untuk menyatakan kepastian digunakan kata: pasti, pernah, tentu, sering, jarang, kerapkali, dan sebagainya.
Untuk menyatakan ketidakpastian digunakan : mungkin, barangkali, kira-kira, rasanya, tampaknya, dan sebagainya.
Untuk menyatakan kesungguhan digunakan: sebenarnya, sesungguhnya, sebetulnya, benar, dan sebagainya.

Contoh:
Sering mereka belajar bersama-sama.

b). Panjang-pendek kalimat.
           Tidak selalu kalimat pendek mencerminkan kalimat yang baik atau efektif, kalimat panjang tidak selalu rumit. Akan sangat tidak menyenangkan bila membaca karangan yang terdiri dari kalimat yang seluruhnya pendek-pendek atau panjang-panjang. Dengan menggabung beberapa kalimat tunggal menjadi kalimat majemuk setara terasa hubungan antara kalimat menjadi lebih jelas, lebih mudah dipahami sehingga keseluruhan paragraf merupakan kesatuan yang utuh.

c). Jenis kalimat.
           Biasanya dalam menulis, orang cenderung menyatakannya dalam wujud kalimat berita. Hal ini wajar karena dalam kalimat berita berfungsi untuk memberi tahu tentang sesuatu. Dengan demikian, semua yang bersifat memberi informasi dinyatakan dengan kalimat berita. Tapi, hal ini tidak berarti bahwa dalam rangka memberi informasi, kalimat tanya atau kalimat perintah tidak dipergunakan, justru variasi dari ketiganya akan memberikan penyegaran dalam karangan.

d). Kalimat aktif dan pasif.
           Selain pola inversi, panjang-pendek kalimat, kalimat majemuk dan setara, maka pada kalimat aktif dan pasif dapat membuat tulisan menjadi bervariasi.

e). Kalimat langsung dan tidak langsung.
           Biasanya yang dinyatakan dalam kalimat langsung ini adalah ucapan-ucapan yang bersifat ekspresif. Tujuannya tentu saja untuk menghidupkan paragraf. Kalimat langsung dapat diambil dari hasil wawancara, ceramah, pidato, atau mengutip pendapat seseorang dari buku.

E.     PENEKANAN
           Yang dimaksud dengan penekanan ialah suatu perlakuan penonjolan pada ide pokok kalimat. Dalam sebuah kalimat ada ide yang perlu ditonjolkan. Kalimat itu memberikan penekanan atau penegasan dalam penonjolan itu. [4]
Ide  pokok atau misi yang ingin ditekankan oleh pembicara biasanya dilakukan dengan memperlambat ucapan, melirihkan suara, dan sebagainya pada bagian kalimat tadi.

Dalam penulisan ada berbagai cara untuk memberikan penekanan yaitu :
Posisi dalam kalimat
Untuk memberikan penekanan dalam kalimat, biasanya dengan menempatkan bagian itu di depan kalimat. Pengutamaan bagian kalimat selain dapat mengubah urutan kata juga dapat mengubah bentuk kata dalam kalimat.

Contoh:
a.       Salah satu indikator yang menunjukkan tak efesiennya Pertamina, menurut pendapat Prof. Dr. Herman Yohanes adalah rasio yang masih timpang antara jumlah pegawai Pertamina dengan produksi minyak.
b.      Rasio yang masih timpang antara jumlah pegawai Pertamina dengan produksi minyak adalah salah satu indikator yagn menunjukkan tidak efisiennya Pertamina. Demikian pendapat Prof. Dr. Herman Yohanes.

Urutan yang logis
Sebuah kalimat biasanya memberikan sebuah kejadian atau peristiwa. Kejadian yang berurutan hendaknya diperhatikan agar urutannya tergambar dengan logis. Urutan yang logis dapat disusun secara kronologis, dengan penataan urutan yang makin lama makin penting atau dengan menggambarkan suatu proses.

Contoh: :
– Kehidupan anak muda itu sulit dan tragis.

F.      PARALELISME
Paralelisme atau kesejajaran adalah kesamaan bentuk kata atau imbuhan yang digunakan dalam kalimat itu. Jika pertama menggunakan verba, bentuk kedua juga menggunakan verba. Jika kalimat pertama menggunakan kata kerja berimbuhan me-, maka kalimat berikutnya harus menggunakan kata kerja berimbuhan me- juga.

Contoh:
Kakak menolong anak itu dengan dipapahnya ke pinggir jalan. (tidak efektif)
Kakak menolong anak itu dengan memapahnya ke pinggir jalan. (efektif)
Anak itu ditolong kakak dengan dipapahnya ke pinggir jalan. (efektif)
Harga sembako dibekukan atau kenaikan secara luwes. (tidak efektif)
Harga sembako dibekukan atau dinaikkan secara luwes. (efektif)

G.    PENALARAN
Suatu kalimat dikatakan logis apabila informasi dalam kalimat tersebut dapat diterima oleh akal atau nalar. Logis atau tidaknya kalimat dilihat dari segi maknanya, bukan strukturnya. Kelogisan kalimat tampak pada gagasan dan pendukungnya yang dipaparkan dalam kalimat. Suatu kalimat dikatakan logis apabila gagasan yang disampaikan masuk akal, hubungan antar gagasan dalam kalimat masuk akal, dan hubungan gagasan pokok serta gagasan penjelas juga masuk akal.
Contoh kalimat salah nalar:
a.       Waktu dan tempat dipersilahkan. (siapa yang dipersilahkan)
b.      Silakan maju ke depan. (maju selalu ke depan)




























BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kalimat efektif ialah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang ada dalam pikiran pembicara atau penulis. Kalimat sangat mengutamakan keefektifan informasi itu sehingga kejelasan kalimat itu dapat terjamin.
Meskipun hemat dalam penggunaan kata, Kalimat efektif tetap harus lengkap, Artinya kalimat itu harus disampaikan. Sedemikian lengkapnya sehingga kalimat efektif mampu menimbulkan pengaruh, meninggalkan kesan, atau menghasilkan akibat. Selanjutnya, kalimat efektif harus dapat dipahami pendengar dengan cara yanng mudah dan menarik. Selain itu, kalimat efektif harus mematuhi kaidah struktur bahasa dan mencerminkan cara berpikir yang masuk akal (logis).

3.2 Saran
Setelah membaca makalah ini, kami pemakalah berharap teman-teman semua dapat mengerti dan memahami tentang apa itu kalimat efektif, bagaimana syarat-syaratnya atau macam-macam kalimat efektif itu dan kami juga berharap teman-teman khususnya pemakalah dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar sesuai kaidah bahasa Indonesia yang telah disempurnakan. Dan kami juga berharap kritik dan saran dari dosen pengampu dan teman-teman semua untuk kesempurnaan makalah selanjutnya.








DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zaenal dan s. Amran Tasai. 2003. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akademika Pressindo
Keraf, Gorys. 1980. Komposisi Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Flores: Nusa Indah
Putrayasa, Ida Bagus. 2007. Kalimat Efektif (Diksi, Struktur, dan Logika). Singaraja : Refika Aditama
Rahardi, Kunjana.2010. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Yogyakarta: Erlangga

http://bahasakubahasamu.wordpress.com/2012/01/30/kalimat-efektif/

http://saefullohlipana.blogspot.com/2012/03/kalimat-efektif.html





[1] Zaenal Arifin dan S.Amran Tasai, Cermat Bahasa Indonesia, hlm. 89.
[2] http://rezaprasetyo08.wordpress.com/2012/10/26/kalimat-efektif/

[3] Dr. Gorys Keraf, Komposisi, hal. 38-41.
[4]  Zaenal Arifin dan S.Amran Tasai, Cermat Bahasa Indonesia, akademika pressindo: Jakarta , 2003