Jumat, 24 Mei 2013

DIKSI


Tugas Terstruktur                                                                            Dosen Pengampu
Bahasa Indonesia                                                                                    Rushan
DIKSI
Disusun oleh:
Hadinurdina (11215202508)
Haina Mandiri (11215204439)
Novi Andria Caesariani (11215200075)
Nurlena (11215204245)
Nurul Qomariah (11215200598)

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU
PEKANBARU
2013
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.   Latar Belakang
               Indonesia memiliki bermacam-macam suku bangsa dan bahasa. Hal itu juga disertai dengan bermacam-macam suku bangsa yang memiliki banyak bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa yang digunakan juga memiliki karakter berbeda-beda sehingga penggunaan bahasa tersebut berfungsi sebagai sarana komunikasi dan identitas suatu masyarakat tersebut. Sebagai makhluk sosial kita tidak bisa terlepas dari berkomunikasi dengan sesama dalam setiap aktivitas. Dalam kehidupan bermasyarakat sering kita jumpai ketika seseorang berkomunikasi dengan pihak lain tetapi pihak lawan bicara kesulitan menangkap informasi dikarenakan pemilihan kata yang kurang tepat ataupun dikarenakan salah paham.
               Pemilihan kata yang tepat merupakan sarana pendukung dan penentu keberhasilan dalam berkomunikasi. Pilihan kata atau diksi bukan hanya soal pilih-memilih kata, melainkan lebih mencakup bagaimana efek kata tersebut terhadap makna dan informasi yang ingin disampaikan. Pemilihan kata tidak hanya digunakan dalam berkomunikasi namun juga digunakan dalam bahasa tulis (jurnalistik). Dalam bahasa tulis  pilihan kata (diksi) mempengaruhi pembaca mengerti atau tidak dengan kata-kata yang kita pilih.
               Dalam makalah ini, penulis berusaha menjelaskan mengenai diksi yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

1.2.  Rumusan Masalah
Bagaimana penjelasan mengenai diksi?
      1.3.  Batasan Masalah
1. Apa pengertian dari diksi?
2. Apa saja syarat-syarat ketepatan diksi?
3. Bagaimana penggunaan diksi?



BAB II
PEMBAHASAN
2.1.   Pengertian Diksi
            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, diksi berarti "pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan)”. Sedangkan menurut Wikipedia pengertian diksi adalah sebagai berikut:
1. Diksi merupakan pemilihan kata dan gaya ekspresi oleh penulis atau pembicara.
2. Diksi merupakan seni berbicara yang  jelas sehingga setiap kata dapat didengar dan dipahami. Pengertian ini membicarakan pengucapan dan intonasi, daripada pemilihan kata dan gaya.[1]
Diksi dapat pula diartikan pilihan kata dan kejelasan lafal untuk memperoleh efek tertentu dalam berbicara di depan umum atau dalam karang mengarang (Kridalaksana, 1982: 35). Diksi bukan hanya berarti pilih-memilih kata. Istilah ini bukan saja digunakan untuk menyatakan gagasan atau menceritakan peristiwa tetapi juga meliputi persoalan gaya bahasa, ungkapan-ungkapan dan sebagainya.
Diksi atau pilihan kata mencakup pengertian kata-kata mana yang dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata-kata yang tepat atau menggunakan ungkapan-ungkapan yang tepat, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi. Pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasaan sejumlah besar kosakata atau perbendaharaan kata bahasa itu.[2]
Dalam penulisan karya ilmiah harus dilakukan pemilihan kata. Pemilihan kata adalah proses atau tindakan memilih kata yang dapat mengungkapkan gagasan secara cepat, hasil dari proses atau tindakan pemilihan kata disebut pilihan kata (Mustakim, 1995). Pemilihan kata merupakan aspek yang sangat penting dalam kegiatan berbahasa, karena apabila pemilihan kata tidak tepat, bahasa yang digunakan akan menjadi tidak efektif dan informasi yang di sampaikan menjadi tidak jelas.
Pilihan kata dalam penulisan karya ilmiah harus mengutamakan bahasa Indonesia. Penggunaan kata-kata bahasa asing, bahasa daerah, dan kata-kata yang berupa dialek harus dihindarkan apabila kata-kata tersebut telah ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Jika tidak ada atau belum memasyarakat, penulisannya adalah setelah kata  atau istilah tersebut kemudian diikuti kata atau istilah bahasa asing, bahasa daerah, atau dialek sebagai padanan dan penulisannya dicetak  miring, untuk uraian selanjutnya cukup digunakan padanannya.
Dalam pemilihan kata, hal yang perlu diperhatikan adalah ketepatan, kecermatan dan keserasian. Ketepatan berkaitan dengan kemampuan memilih kata untuk mengungkapkan gagasan secara tepat dan diterima oleh pembaca atau pendengar secara tepat. Kecermatan berakaitan dengan kemampuan memilih kata dengan cermat. Artinya, mampu memahami kata-kata yang mubazir atau kata-kata yang kehadirannya tidak diperlukan. Keserasian berkaitan dengan kemampuan menggunakan kata-kata yang sesuai dengan konteks dan lazim dalam pemakaian bahasa itu.[3]
Perbendaharaan kosa kata yang banyak akan memungkinkan penulis atau pembicara lebih bebas memilih kata yang dianggapnya paling tepat mewakili pemikirannya. Ketepatan makna kata menuntut pula kesadaran penulis atau pembicara untuk mengetahui bagaimana hubungan antara bentuk bahasa (kata) dengan referensinya. Apakah bentuk yang dipilih sudah cukup lengkap untuk mendukung maksud penulis, atau apakah masih diperlukan penjelasan-penjelasan tambahan. Dengan demikian pula masalah makna kata yang tepat meminta pula perhatian penulis atau pembicara untuk mengikuti perkembangan makna tiap kata dari waktu ke waktu, karena makna tiap kata dapat mengalami pula perkembangan, sejalan dengan perkembangan waktu.




2.2.   Syarat-Syarat Diksi
Ketepatan pilihan kata mempersoalkan kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan-gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca, seperti apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh penulis. Untuk mencapai ketepatan pilihan kata, ada beberapa hal yang harus diperhatikan :
·      Membedakan secara cermat denotasi dari konotasi. Kata denotatif dan konotatif dibedakan berdasarkan maknanya. Kata konotatif memiliki makna tambahan atau nilai rasa. Kita dihadapkan pada dua kata yang mempunyai makna mirip, kita harus menetapkan salah satu yang paling tepat untuk mencapai suatu maksud. Kalau hanya pengertian dasar yang diinginkan, kita harus memilih kata denotatif; kalau kita menghendaki reaksi emosional tertentu, kita mempergunakan kata sesuai dengan sasaran yang akan dicapainya.
·      Membedakan dengan cermat kata-kata yang hampir bersinonim. Penulis harus berhati-hati memilih kata dari sekian sinonim yang ada untuk menyampaikan apa yang diinginkannya sehingga tidak timbul salah interpretasi.
·      Bedakan kata khusus dan kata umum. Kata khusus lebih tepat menggambarkan sesuatu daripada kata umum.
·      Perhatikan perubahan makna yang terjadi pada kata-kata yang sudah dikenal.
·      Membedakan makna kata secara cermat kata yang mirip ejaannya, misalnya: inferensi (kesimpulan),dan interferensi (saling mempengaruhi), sarat (penuh), dan syarat (ketentuan)
·      Tidak menafsirkan makna kata secara subjektif berdasarkan pendapat sendiri jika pemahaman belum dapat dipastikan, pemakai kata harus menentukan makna yang tepat dalam kamus, misalnya : modern sering diartikan secara subjektif canggih menurut kamus modern berarti terbaru atau  mutakhir; canggih berarti banyak cakap, suka mengganggu, banyak mengetahui, bergaya intelektual.
·      Menggunakan imbuhan asing (jika diperlukan) harus memahami maknanya secara tepat, misalnya: dilegalisir seharusnya legalisasi, koordinir seharusnya koordinasi.
·      Menggunakan kata-kata idiomatic berdasarkan susunan (pasangan) yang benar, misalnya: sesuai bagi seharusnya sesuai dengan.

·      Menggunakan kata yang berubah makna dengan cermat, misalnya: isu ( dalam bahasa Inggris issue berarti publikasi, kesudahan, perkara) isu ( dalam bahasa Indonesia berati kabar yang tidak jelas asal usulnya, kabar angin, desas -desus)
·      Menggunakan kata abstrak dan kata konkret secara cermat, kata abstrak (kontekstual, misalnya:pendidikan, wirausaha, dan pengobatan modern) dan kata kongkret atau kata khusus (misalnya: mangga, sarapan, dan berenang)[4]


 2.3.    Penggunaan Diksi dalam Kalimat 
a)         Makna Kata dan Relasi Kata
       Sebelum menentukan pilihan kata, penulis harus memperhatikan dua hal pokok, yakni: masalah makna dan relasi makna. Makna sebuah kata atau sebuah kalimat merupakan makna yg tidak selalu berdiri sendiri.
Adapun makna kata terbagi atas beberapa kelompok yaitu :
1.    Makna Denotatif dan Konotatif
         Makna denotatif adalah makna yang lugas yang menyampaikan sesuatu secara faktual. Makna denotatif tidak akan mengalami perubahan makna. Makna konotatif adalah makna yang bukan sebenarnya, yang umumnya bersifat sindiran dan merupakan makna denotasi yang mengalami penambahan.
       Makna konotatif selalu berubah dari zaman ke zaman. Contoh: Kata kurus pada contoh di atas bermakna konotatif netral, artinya tdk memiliki nilai rasa yg mengenakkan, tetapi kata ramping bersinonim dengan kata kurus itu memiliki konotatif positif, nilai yg mengenakkan. Orang akan senang bila dikatakan ramping.
2.    Makna Umum dan Makna Khusus
              Kata umum adalah kata yang cakupannya lebih luas. Kata khusus adalah kata yang    memiliki cakupan yang  lebih sempit atau khusus. Misalnya bunga termasuk kata umum, sedangkan kata khusus dari bunga adalah mawar, melati , anggrek.

3.    Makna Leksikal dan makna Gramatikal
            Makna Leksikal adalah makna yang sesuai dengan hasil observasi alat indera
       atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan.
Contoh: Kata nyamuk, makna leksikalnya adalah binatang yang menyebabkan timbulnya penyakit.
            Makna Gramatikal adalah untuk menyatakan makna jamak bahasa Indonesia, menggunakan pengulangan kata, seperti kata: meja yg bermakna “sebuah buku,” menjadi meja-meja  yang bermakna “‘ banyak meja.”
4.    Makna Peribahasa
            Makna pribahasa adalah makna yang bersifat memperbandingkan atau mengumpamakan, maka lazim juga disebut dengan nama perumpamaan.
       Contoh: Bagai, bak, laksana dan umpama lazim digunakan dl peribahasa.
5.    Makna Kias dan Lugas
            Makna kias adalah kataataupun kalimat yang tidak mengandung  arti yang sebenarnya. Contoh: raja siang, bermakna matahari.
6.    Kata Konkrit dan Kata Abstrak
            Kata konkrit adalah kata yang dapat diserap oleh panca indra. Misalnya meja, air, dan suara. Sedangkan kata abstrak adalah kata yang sulit diserap oleh panca indra. Misalnya kemerdekaan, kebebasan.
     Adapun relasi makna terbagi atas beberapa kelompok yaitu :
a.    Kesamaan Makna (Sinonim)
Sinonim adalah dua kata atau lebih yang mempunyai makna yang sama, tapi bentuknya berlainan. Contoh: mati dan wafat.
b.    Kebalikan Makna (Antonim)
              Antonim adalah dua kata atau lebih yang mempunyai makna yang berbeda atau dianggap kebalikan dari makna. Contoh: kata luas berantonim dengan kata sempit.
c.    Ketercakupan Makna (Hiponim)
Hiponim adalah sebagai ungkapan (berupa kata, frase atau kalimat) yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna suatu ungkapan.
Contoh : kata tongkol adalah hiponim terhadap kata ikan, sebab makna tongkol termasuk makna ikan.


d.   Kelebihan Makna (Redundansi)
Redundansi dapat diartikan sebagai kalimat yang berlebih-lebihan yang sebenarnya tidak perlu dicantumkan.Contoh : Buku dibawa Clara, maknanya tidak akan berubah bila dikatakan buku dibawa oleh Clara. Pemakaian kata oleh pada kalimat kedua dianggap sebagai suatu yang redundansi, yang berlebih- lebihan, dan sebenarnya tidak perlu.

b)        Perubahan Makna
       Macam-macam perubahan makna:
1.  Perluasan arti
Yang dimaksud dengan perluasan arti adalah suatu proses perubahan makna yang dialami sebuah kata yang tadinya mengandung suatu makna yang khusus, tetapi kemudian meluas sehingga melingkupi sebuah kelas makna yang lebih umum.
2.  Penyempitan arti
Penyempitan arti sebuah kata adalah sebuah proses yang dialami sebuah kata dimana makna yang lama lebih luas cakupannya dari makna yang baru.
3.  Ameliorasi
Ameliorasi adalah suatu proses perubahan makna, dimana arti yang baru dirasakan lebih tinggi atau lebih baik nilainya dari arti yang lama.
4.  Peyorasi
Peyorasi adalah suatu proses perubahan makna sebagai kebalikan dari ameliorasi. Dalam peyorasi arti yang baru dirasakan lebih rendah nilainya dari arti yang lama.
c)      Gaya Bahasa
          Majas atau gaya bahasa adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis.
1)   Klimaks
       Gaya bahasa klimaks diturunkan dari kalimat yang bersifat periodic.
2)   Antiklimaks
Antiklimaks dihasilkan oleh kalimat yang berstruktur mengendur. Antiklimaks sebagai gaya bahasa merupakan suatu acuan yang gagasan-gagasannya diurutkan dari yang terpenting berturut-turut ke gagasan yang kurang penting. Antiklimaks sering kurang efektif karena gagasan yang penting ditempatkan pada awal kalimat, sehingga pembaca atau pendengar tidak lagi memberi perhatian pada bagian-bagian berikutnya dalam kalimat itu.
3)   Antithesis
adalah sebuah gaya bahasa yang mengandung gagasan-gagasan yang bertentangan, dengan mempergunakan kata-kata atau kelompok kata yang berlawanan.
4)   Repetisi
Adalah pengulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai.
5)   Erotesis atau pertanyaan retoris
Adalah semacam pertanyaan yang dipergunakan dalam pidato atau tulisan dengan tujuan untuk mencapai efek yang lebih mendalam dan penekanan yang wajar, dan sama sekali tidak menghendaki adanya suatu jawaban.
6)   Sinekdoke
Adalah suatu istilah yang diturunkan dari kata Yunani synekdechesthai yang berarti menerima bersama-sama. Sinekdoke adalah semacam bahasa figurative, yang mempergunakan sebagian dari sesuatu hal untuk menyatakan keseluruhan (pars pro toto) atau mempergunakan keseluruhan untuk menyatakan sebagian (totum pro parte).
7)   Eufimisme
Eufimisme adalah ungkapan yang halus untuk menggantikan kata-kata yang dirasakan menghina ataupun menyinggung perasaan.
Anak Anda memang tidak terlalu cepat mengikuti pelajaran seperti anak-anak lainnya. (=bodoh)


8)   Hiperbola
Hiperbola adalah semacam gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan dengan membesar-besarkan suatu hal.
Hatiku tercabik-cabik, ketika kau mengakhiri hubungan kita.
9)   Metafora
Gaya bahasa perbandingan yang membandingkan dua hal secara implicit. Contohnya Banyak mahasiswa yang mencoba memperebutkan mawar fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya itu. Pada kalimat di atas, kata mawar digunakan untuk menyebut gadis. Ini berarti, keduanya diperbandingkan. Komponen makna penyama: cantik/indah, segar, harum, berduri, cepat layu. Komponen makna pembeda: untuk “gadis” adalah manusia, berjenis wanita, untuk “mawar” adalah bagian dari tanaman.
10)  Personifikasi
 Adalah gaya bahasa  yang menampilkan binatang, tanaman, atau benda sebagai manusia. Contoh: melambai-lambai nyiur di pantai.
11)  Sarkasme
Sindiran langsung dan kasar.kata-kata pedas untuk menyakiti hati orang lain; cemoohan atau ejekan kasar.
12)  Metonimia
Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut.
13)  Litotes
Gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri. Contohnya Rumah yang buruk inilah yang merupakanhasilusaha kami bertahun-tahun lamanya.
14)  Pleonasme
Disebut pleonasme apabila kata yang berlebihan yang jika dihilangkan, artinya tetap utuh. Contohnya Saya telah mendengar hal itu dengan telinga saya sendiri. Ungkapan di atas adalah pleonasme karena semua kata tersebut memiliki makna yang sama, walaupun dihilangkan kata-kata: dengan telinga saya,

d)   Kata Sapaan
          Kata sapaan adalah kata yang digunakan untuk menegur sapa orang yang diajak berbicara (orang kedua) atau menggantikan nama orang ketiga.
Berikut adalah beberapa contoh kata yang dapat digunakan sebagai kata sapaan:
1.    Nama diri seperti Toto, Nur.
2.    Kata yag tergolong istilah kekerabatan, seperti bapak, ibu, paman, bibi.
3.    Gelar kepangkatan, profesi atau jabatan, seperti kapten, professor, dokter.
4.    Kata nama, seprti tuan, nyonya, sayang.
5.    Kata nama pelaku, seperti penonton, peserta, atau hadirin.
6.    Kata ganti persona kedua Anda.
 Penggunaan kata sapaan itu sangat terikat pada adat istiadat setempat, adat  kesantunan serta situasi dan kondisi percakapan. Itulah sebabnya, kaidah kebahasaan sering terkalahkan oleh adat kebiasaan yang berlaku di daerah tempat bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang. Namun yang perlu diingat dalam hal ini adalah cara penulisan kata kekerabatan yang digunakan sebagai kata sapaan, yakni ditulis dengan huruf awal huruf kapital.
Contoh-contoh Penggunaan Diksi
 Kata - kata yang terkesan kurang optimal.
“Kita ? Elo aja kalee’, gua sih enggak!”
 Maknanya: Jangan berharap bisa bergabung dengan lawan bicara seperti ini apalagi kalau dia sudah mengeluarkan pernyataan di atas.
Penggunaan diksi yang tepat
1. Kalimat yg akan disampaikan ringkas, artinya tidak boros kata-kata
Contoh :
• Bukan: Menteri keuangan menyatakan akibat dari langkah tersebut ialah akan meningkatnya kondisi keuangan sektor swasta dan memberikan peningkatan terhadap kepercayaan bisnis dan masyarakat secara umum.
• Tetapi: Menteri keuangan mengatakan, langkah-langkah itu akan membantu keuangan sektor swasta
2. Tidak menggunakan pengulangan kata.
Contoh: Rencana yang akan datang, alasannya karena, ramai berbondong-bondong, maju ke depan, mundur ke belakang, peristiwa lalu yang telah dilewati dan sebagainya.
   3. Tidak menggunakan anak kalimat
Dalam berbicara, kita jarang menggunakan anak kalimat. Jika menemukan anak kalimat, pecahlah menjadi beberapa kalimat. Semakin sederhana struktur kalimat, akan semakin baik.
Contoh:
 Bukan: Rumania yang gaungnya mulai tenggelam sejak ditinggalkan Gheorge Hagi, siap mengalahkan tim manapun di Euro 2008 ini.
Tetapi: Sejak ditinggalkan Gheorge Hagi, gaung Rumania seperti tenggelam. Namun, Rumania tetap bertekad mengalahkan tim manapun di Euro 2008 ini.
  1. Tidak mendahulukan kata kerja.
Contoh:
• Bukan: Menuntut presiden SBY membubarkan Ahmadiyah, demonstran dlm gelombang besar berunjuk rasa di depan Istana Negara.
Tetapi: Demonstran berunjuk rasa di depan Istana Negara, menuntut pembubaran Ahmadiyah.
  1. Tidak menempatkan “kata kerja penting” di akhir kalimat, karena pembaca berita biasanya menurunkan suaraya di akhir kalimat. Jika hal ini terjadi, maka kata kunci akan menjadi hilang.
Contoh:
• Bukan: Demonstran berunjuk rasa di depan Istana Negara, menuntut Ahmadiyah dibubarkan.
Tetapi: Demonstran berunjuk rasa di depan Istana Negara, menuntut pembubaran Ahmadiyah.[5]


















BAB III
PENUTUP

3.1.    Kesimpulan
               Dari uraian yang telah dipaparka didepan, maka kami mengambil kesimpulan sebagai berikut:
               Diksi adalah pilihan kata yang tepat untuk mengemukakan gagasan sehingga diperoleh efek yang diharapkan. Diksi merupakan faktor yang penting dalam berkomunikasi, yang digunakan agar tidak terjadi kesulitan dalam memahami informasi.
               Diksi tidak hanya digunakan dalam bahasa lisan saja namun juga digunakan dalam bahasa tulis (jurnalistik).
3.2.     Saran
Harapan kami agar kita sebagai mahasiswa serta masyarakat dapat memahami dan menerapkan diksi (pilihan kata) dalam aktivitasnya. Dari makalah yang telah penulis buat ini mudah-mudahan kita semua dapat memperbaiki kesalahan-kesalan kita dalam penggunaan diksi, khususnya bagi penulis sendiri.
Penulis sepenuhnya menyadari bahwa dalam makalah ini banyak terdapat kekurangan, untuk itu penulis berharap kepada pembaca agar dapat menyampaikan kritik dan sarannya demi kesempurnaan makalah ini.









http://www.google.co.id/search?hl=id&cr=countryID&q=pilihan+kata+dalam+ bahasa+indonesia&star=10, di unduh pada hari Rabu 13 Maret 2013
[2] Keraf, Gorys, Diksi dan Gaya Bahasa, (Jakarta : Gramedia, 1985)
[3] Tim Penulis Bahasa Indonesia UNEJ, Bahasa Indonesia untuk Mahasiswa, (Yogyakarta : Penerbit ANDI, 2007), hal. 72-73
[4] Dr. Hasnah Fauziah AR, S.Pd., M. Hum, Mata  Kuliah Dasar Umum Bahasa Indonesia, (Pekanbaru : Cendikia Insani, 2008), hal. 32-33

[5] Keraf, Gorys, Diksi dan Gaya Bahasa, (Jakarta : Gramedia, 1985)