Jumat, 24 Mei 2013

REsensi Buku Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya Jilid 1



Nama                        : MILLA EKA PUTRI


Semester/lokal           : 1/D


Tugas Terstruktur “Metodologi Studi Islam”

 


Resensi Buku
A.  Identitas Buku
1)   Judul                            : Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya Jilid I
2)   Penulis                         : Prof. DR. Harun Nasution
3)   Penerbit                       : Universitas Indonesia (UI-Press)
4)   Tahun Terbit                : 2011
5)   Cetakan ke-                 : 5 (lima)
6)   Jumlah halaman           : 122 halaman

B.  Isi Ringkas
1.    Agama dan Pengertian Agama dalam Berbagai Bentuknya
            Agama adalah pengarah hidup yang diyakini seseorang untuk memandunya ke jalan yang benar, atau pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan gaib yang menguasai dan mengikat manusia pada suatu bentuk hidup yang bersumber dari luar diri manusia yang menimbulkan adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini berasal dari kekuatan gaib tersebut seperti adanya pemujaan terhadap kekuatan gaib yang timbul dari perasaan lemah dan takut yang merupakan ajaran-ajaran yang di wahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang Rasul.
            Alasan manusia beragama adalah: karena adanya kelemahan pada diri manusia, karena adanya tantangan, dan karena adanya fitrah. Agama yang terdapat pada masyarakat primitif ialah dinamisme (kepercayaan pada roh), animisme (kepercayaan pada benda), politeisme (kepercayaan pada dewa). Agama pada masyarakat yang sudah maju adalah monoteisme (agama tauhid) yaitu kepercayaan bahwa Tuhan Maha Esa. Yang termasuk agama monoteisme adalah Islam, Kristen dan Yahudi. Unsur-unsur yang terdapat dalam agama ialah: kekuatan gaib, keyakinan manusia tentang hubungan baik dengan makhluk gaib, respons yang bersifat emosional dari manusia dan paham adanya yang kudus dan suci.

2.    Islam dalam Pengertian yang Sebenarnya
Islam adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan oleh Allah kepada manusia melalui Nabi Muhammad SAW yang sumber ajarannya Al-Qur’an dan Hadits. Ajaran yang paling penting dalam Islam adalah ajaran tauhid, yaitu pengakuan tentang Tuhan Yang Maha Esa. Dan juga membahas tentang kerasulan, wahyu, kitab suci Al-Qur’an, tentang orang yang percaya kepada ajaran yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW, tentang mukmin dan muslim, tentang orang kafir dan musyrik, hubungan makhluk, terutama manusia dengan Allah SWT, tentang akhir hidup manusia yaitu surga dan neraka, dan sebagainya.
Islam mempunyai berbagai aspek, seperti: aspek teologi, ibadat, moral, mistisisme, falsafah, sejarah, kebudayaan, dan sebagainya. Dalam aspek hukum, Islam mempunyai berbagai mahzab, tetapi yang diakui sekarang hanya empat mahzab, yaitu: mahzab Hanafi, Maliki, Syafi’I, dan Hambali. Ilmu Fiqih adalah ilmu yang membahas tentang hukum Islam.

3.    Aspek Ibadat, Latihan Spiritual Dan Ajaran Moral
Manusia terdiri dari dua unsur yaitu unsur jasmani dan rohani. Semua ibadah dalam Islam, seperti shalat, puasa, haji dan zakat, bertujuan membuat roh manusia supaya senantiasa tidak lupa terhadap Tuhan, bahkan senatiasa dekat pada-Nya yang dapat mempertajam rasa kesucian seseorang. Orang yang shalat, rohnya akan dapat menjadi bersih dan ia akan dijauhkan dari perbuatan-perbuatan tidak baik dan jahat. Saat berpuasa, latihan jasmani dan rohani bersatu dalam menyucikan roh manusia, dan disempurnakan dengan perasaan kasih kepada mukmin yang lemah ekonominya dengan mengerluakan zakat fitrah. Mengerjakan ibadah haji manusia melakukan penyucian roh dan latihan jasmani dalam bentuk pakaian, makanan dan tempat tinggal sederhana. Sedangkan zakat melakukan penyucian roh dengan mengeluarkan sebagian harta untuk fakir-miskin yang melatih menjauhi kerakusan pada harta, memupuk rasa persaudaraan, rasa kasihan dan saling toong menolong.
Dalam Al-Qur’an dan hadits dijalaskan bahwa, ibadah sebenarnya merupakan latihan spiritual dan moral dalam usaha Islam membina manusia agar tidak kehilangan keseimbangan hidup dan berbudi pekerti yang luhur. Tujuan dasar dari semua ajaran-ajaran Islam adalah untuk mencegah dari perbuatan buruk dan mendorong kepada perbuatan-perbuatan baik.

4.    Aspek Sejarah dan Kebudayaan
Tahun Islam dimulai dengan hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah pada tahun 622 M. Sejarah Islam dapat dibagi ke dalam tiga periode, yaitu:
a.    Periode Klasik: 650-1250M
1)   Masa kemajuan Islam I: 650-1000 M
Masa ini merupakan masa ekspansi, integrasi dan keemasan Islam. Ekspansi mulai dilakukan di zaman kulafa Al-Rasyidin, yaitu masa khalifah Abu Bakar Al-Sidig (632-634M),  Umar ibn Al-Khattab (634-644M), Usman Ibn Affan (644-656M), Ali Ibn Talib (656-661), Mu’awiah (661-750M). Mu’amiah membentuk Dinasti Bani Umayyah dan ekspansi gelombang kedua terjadi pada zaman Dinasti ini.
Sebab-sebab dilakukannya ekpansi dalam Islam karena Islam mengandung ajaran-ajaran dasar, keyakinan para sahabat tentang kewajiban menyampaikan ajaran Islam ke seluruh tempat. Dinasti Bani Umayyah digantikan oleh  Dinasti Bani Abbas (750-1258M).
2)   Masa Disintegrasi: 1000-1250M
Disintegrasi dalam bidang politik telah mulai terjadi pada akhir zaman Bani Umayyah, dan memuncak di zaman Bani Abbas.

b.    Periode Pertengahan: 1250-1800M
Periode Pertengahan ini dibagi menjadi dua masa, yaitu Masa kemunduran I (1250-1500M) yang  dimulai dari penyerangan-penyerangan yang di lakukan Jengis Khan yang berasal dari Mongolia kepada kerajaan-kejaan Islam pada tahun 1212M, selanjutnya Masa Tiga Kerajaan Besar (1500-1800M) yaitu Kerajaan Usmani di Turki, Kerajaan Safawi di Persia dan Kerajaan Mughal di India. Masa ini pun terbagi menjadi dua fase yaitu fase kemajuan II  (1500-1700M) dan fase kemunduran II (1700-1800M).

c.    Periode Modern: 1800M
Periode ini merupakan Zaman Kebangkitan Islam. Pemuka-pemuka Islam mengeluarkan pemikiran-pemikiran bagaimana caranya membuat umat Islam maju kembali.

5.    Aspek Politik
Menurut sejarah persoalan yang pertama timbul dalam Islam bukanlah persoalan tentang keyakinan tetapi persoalan politik. Persoalan-persoalan politik muncul pada masa khalifah yang ketiga Usman Ibn Affan, yaitu politik Nepotisme yang berakibat pada pembunuhan Usman oleh pemuka-pemuka pemberontak dari Mesir. Dan persoalan-persoalan politik terus terjadi, dan pada masa khalifah keempat Ali Ibn Abi Talib, timbul tiga golongan politik, yaitu golongan Ali (Syi’ah), Khawarij dan Mu’awiah.

6.    Lembaga-Lembaga Kemasyarakatan
Kepala Negara Islam adalah seorang Khalifah yang jabatannya bersifat turun temurun. Dalam menjalankan tugas pemerintahan, khalifah dibantu oleh seorang wazir (perdana menteri) yang menjadi pembantu utama, penasehat dan tangan kanan. Di bawah wazir terdapat beberapa diwan (departemen). Islam mengambil bentuk Negara yang harus mempunyai lembaga kemasyarakatan, seperti pemerintahan, hukum, pengadilan, polisi, pertahanan dan pendidikan.
Kepala daerah awalnya diberi nama ‘Amil’ (pengumpul zakat) dan kemudian lebih dikenal dengan nama  ‘Amir’ (Panglima). Keuangan Negara bersumber terutama pada kharaj, pajak yang dipungut atas tanah, zakat yang dibayar oleh warga Negara Islam dan Jizyah yang dipungut dari warga Negara bukan Islam serta masih banyak lagi pajak lainnya. Semua penghasilan itu dikumpulkan di Bait Al-Mal. Hubungan anatara pusat dengan daerah dan sebaliknya dilakukan dengan pos (al-barid).
Khalifah bukan hanya merupakan kepala Negara, tetapi juga Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata. Pendidikan dalam Islam awalnya diberikan di Masjid, kemudian di sekolah-sekolah (kuttab/madrasah). Hukum yang dipakai bukan hanya hukum fiqih saja tetapi juga hukum yang diptuskan oleh khalifah atau sultan. Qanun mengurus masalah administrasi Negara. Untuk menjaga keamanan diadakan lembaga kepolisian (syurtah) yang dipimpin oleh sahib al-syurtah. Kemudian muhtashib berugas mengurus masalah pelanggaran hukum yang ringan. Yang bertugas mengeluarkan fatwa adalah mufti. Kemudian pendirian rumah sakit yang dananya dibersumber dari wakaf.

C.  Kesimpulan
Inti dari buku tersebut adalah memperkenalkan Islam dari berbagai aspeknya. Buku ini menolak pemahaman bahwa Islam itu hanya berkisar pada ibadat, fikih, tauhid, tafsir, hadits, dan akhlak saja. Islam menurut buku Harun ini lebih luas dari itu, termasuk di dalamnya sejarah, peradaban, filsafat, mistisisme, teologi, hukum, lembaga-­lembaga, dan politik.

D.  Komentar
Menurut saya, kelebihan dari buku ini adalah bahasanya mudah di pahami. Dan kekurangan dari buku ini adalah ada beberapa kata yang tidak sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga maknanya sulit untuk di mengerti.
Buku ini tidak baik dibaca oleh anak-anak, karena mereka masih terlalu awam untuk memahami maknanya. Sebaiknya buku ini dibaca bagi orang-orang yang memang bisa memahami makna dari buku ini.