Sabtu, 08 November 2014

Sejarah Islam di Filipina




Tugas Terstruktur                                                                             Dosen Pengampu
Sejarah Islam Asia Tenggara                                                                           Nelly Yusra M.Ag



ISLAM DI FILIPINA




O
L
E
H

KELOMPOK 8

INDAH YUNI SAPUTRI                             NIM    : 11215201591
MERI ARISKA                                             NIM    : 11215204524
MILLA EKA PUTRI                                     NIM    : 11215201324

Mahasiswa Pendidikan Matematika Semester 5 D
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim RIAU
Tahun 2014
 





BAB II
PEMBAHASAN

A.      Sejarah Masuknya Islam Di Filipina

Islam masuk ke Filipina sebelum penjelajah Spanyol menginjakkan kaki ke tanah negeri ini. Itu dibuktikan dengan adanya laporan seorang pengembara China pada zaman Dinasti Yuan pada tahun 1280-1380.
Muslim di Filipina biasanya dikenali sebagai masyarakat Moro. Mereka umumnya berdiam di Pulau Mindanao (pulau kedua terluas di Filipina), kepulauan Sulu, Palawan, Basilan, dan Pulau-pulau sekitarnya. Sejumlah literatur menyebutkan istilah Moro merujuk kepada kata Moor, Mariscor, atau Muslim. Kata Moor berasal dari istilah latin, Mauri, sebuah istilah yang sering digunakan orang-orang romawi kuno untuk menyebut penduduk wilayah Aljazair Barat dan Maroko. Ketika bangsa Spanyol tiba di wilayah Filipina dan menemukan sebuah bangsa yang memiliki agama dan adat istiadat seperti orang-orang Moor di Spanyol Andalusia, mereka mulai menyebut orang-orang di Filipina dengan istilah Moro.[1]
Islam masuk ke wilayah Filipina selatan, khususnya kepulauan Sulu dan Mindanao pada tahun 1380. Orang pertama yang memperkenalkan Islam ke Sulu adalah Tuan Mashaika yang diduga telah sampai di Sulu pada abad ke 13. Keturunannya kemudian menjadi inti komunitas Muslim di Sulu. Berikutnya  yang datang menyebarkan Islam di Sulu adalah ulama Arab bernama Kamirul Makhdum pada paroh abad ke 14. Ia diterima dengan baik oleh komunitas Muslim Buansa. Aktivitas keagamaan yang digerakkannya memperkuat pertumbuhan komunitas Islam yang dibentuk oleh pendahulunya, Tuan Mashaika.
Ini berarti kedatangan Islam di Filipina jauh lebih awal dari kedatangan kolonial barat, khususnya bangsa Spanyol yang masuk ke kawasan itu pada tahun 1566 M.
Pada awal abad ke-15, penyebar Islamlainnya datang ke Sulu, yaitu Raja Baginda. Menurut catatan sejarah Raja Baginda adalah seorang pangeran dari Minangkabau. Menurut cerita, ketika ia baru tiba di kepualauan Sulu, masyarakat setempat bermaksud mengaramkan kapalnya,namun sikapmereka secara dramatis berubah ketika mereka tahu bahwa Raja Baginda seorang Muslim. Disini ada hal yang patut dicatat bahwa proses Islamisasi sudah mencapai tahap dimana menjadi muslim telah menjadi paspor untuk dapat diterima dalam sebuah komunitas.[2]

B.       Islam Pada Masa Kolonial
1.         Masa Kolonial Spanyol
Dalam sejarahnya, Filipina pernah dijajah oleh Spanyol dan Amerika. Islam sudah berkembang di Filipina ketika kolonial Spanyol datang menjajah Filipina pada 16 Maret 1521. Kesultanan Sulu yang berdiri tahun 1450, saat itu berusia 71 tahun. Ketika Legafzi sampai tahun 1565, kesultanan ini sudah berumur 115 tahun. Jelas saja Islam menjadi sandaran dan acuan, sekaligus menjadi identitas mereka dalam melawan pihak kolonial.
Pasukan Spanyol masuk ke Filipina dan menyerang dari arah selatan. Akibatnya, kesultanan Manila jatuh ke tangan Spanyol pada tahun 1570, sedangkan kesultanan Muslim lainnya di Mindanao dan Sulu dapat mempertahankan wilayahnya. Muslim Mindanao dan Sulu berbeda dengan wilayah utara yang mudah ditaklukkan tanpa ada perlawanan berarti melakukan perlawanan sangat gigih terhadap Spanyol. Tentara kolonial Spanyol harus bertempur mati-matian kilometer demi kilometer untuk mencapai Mindanao-Sulu (kesultanan Sulu takluk tahun 1876). Mereka juga menghabiskan lebih dari 375 tahun masa kolonialisme dengan perang berkelanjutan melawan kaum Muslim. Walaupun demikian, kaum Muslim tidak pernah dapat ditundukkan secara total.
Tahun 1578 terjadi perang besar yang melibatkan orang Filipina sendiri. Penduduk pribumi wilayah utara yang telah dikristenkan dilibatkan dalam ketentaraan kolonial Spanyol. Kemudian diadu domba dan disuruh berperang melawan orang-orang Islam di selatan. Sehingga terjadilah peperangan antara orang Filipina sendiri dengan mengatasnamakan “misi suci”. Dari  sinilah kemudian timbul kebencian dan rasa curiga orang-orang kristen Filipina terhadap bagsa Moro yang Islam sampai sekarang.

2.         Masa Kolonial Amerika Serikat

Amerika datang ke Mindanao dengan menampilkan diri mereka sebagai seorang sahabat baik dan dapat dipercaya. Hal ini dibuktikan dengan ditandatanganinya Traktat Bates (20 Agustus 1989) yang menjanjikan kebebasan beragama, kebebasan mengungkapkan pendapat, kebebasan mendapatka pendidikan bagi bangsa Moro. Namun traktat tersebut hanya taktik mengambil hati orang-orang Islam agar tidak memberontak, karena pada saat yang sama Amerika tengah disibukkan dengan pemberontakkan kaum revolusioner Filipina Utara pimpinan Emilio Aguinaldo.
Terbukti setelah kaum revolusioner kalah pada 1902, kebijakkan AS di Mindanao dan Sulu bergeser kepada sikap campur tangan langsung dan penjajahan terbuka. Setahun kemudian (1903) Mindano dan Sulu disatukan menjadi wilayah provinsi Moroland dan berada dibawah pengawasan Amerika di Manila.[3]
Selama periode 1989-1902, AS ternyata telah menggunakan waktu tersebut untuk membebaskan tanah serta hutan diwilayah Moro untuk keperluan ekspansi para kapitalis. Bahkan peride 1903-1913 dihabiskan AS untuk memerangi berbagai kelompok perlawanan Bangsa Moro. Namun Amerika memandang peperangan tak cukup efektif meredam perlawanan Bangsa Moro, Amerika akhirnya menerapkan strategi penjajahan melalui kebijakan pendidikan dan bujukan.
Kebijakan pendidikan dan bujukan yang diterapkan Amerika terbukti merupakan strategi yang sangat efektif dalam meredam perlawanan Bangsa Moro. Sebagai hasilnya, kohesitas politik dan kesatuan diantara masyarakat Muslim mulai berantakan dan basis budaya mulai diserang oleh norma-norma Barat. Kebijakan  ini lebih disebabkan keinginan Amerika memasukkan kaum Muslimin ke dalam arus utama masyarakat Filipina di Utara dan mengasimilasi kaum Muslim ke dalam tradisi dan kebiasaan orang-orang Kristen.[4]

3.         Masa Transisi (Peralihan)

Masa pra-kemerdekaan ditandai dengan masa peralihan kekuasaan dari penjajah Amerika ke pemerintah Kristen Filipina di Utara. Untuk menggabungkan ekonomi Moroland ke dalam sistem kapitalis, diberlakukanlah hukum-hukum tanah warisan jajahan AS yang sangat kapitalistis seperti :
a.              Land Registration Act No. 496 (November 1902) yang menyatakan keharusan pendaftaran tanah dalam bentuk tertulis, ditandatangani dan di bawah sumpah.
b.             Philippine Commission Act No. 718 (4 April 1903) yang menyatakan hibah tanah dari para Sultan, Datu, atau kepala Suku Non-Kristen sebagai tidak sah, jika dilakukan tanpa ada wewenang atau izin dari pemerintah.
c.              Public Land Act No. 296 (7 Oktober 1903) yang menyatakan semua tanah yang tidak didaftarkan sesuai dengan Land Registration Act No. 496 sebagai tanah negara.
d.             The Mining Law of 1905 yang menyatakan semua tanah negara di Filipina sebagai tanah yang bebas, terbuka untuk eksplorasi, pemilikan dan pembelian oleh WN Filipina dan AS
e.               Cadastral Act of 1907 yang membolehkan penduduk setempat (Filipina) yang berpendidikan, dan para spekulan tanah Amerika, yang lebih paham dengan urusan birokrasi, untuk melegalisasi klaim-klaim atas tanah.

Pada intinya ketentuan tentang hukum tanah ini merupakan legalisasi penyitaan tanah-tanah kaum Muslimin (tanah adat dan ulayat) oleh pemerintah kolonial AS dan pemerintah Filipina di Utara yang menguntungkan para kapitalis. [5]

C.       Respon Pemerintah terhadap Islam Pasca Merdeka dari Kolonial

Kemerdekaan yang didapatkan Filipina pada tanggal 4 Juli 1946 M dari Amerika Serikat ternyata tidak memiliki arti khusus bagi Bangsa Moro. Hengkangnya penjajah pertama (Amerika Serikat) dari Filipina ternyata memunculkan penjajah lainnya (pemerintah Filipina). Tekanan semakin terasa kuat dan berat ketika Ferdinan Marcos berkuasa dari tahun 1965-1986.
Kebijakan umum pemerintah Filipina terhadap kaum muslim Moro dasarnya tidak berubah intensitasnya dari satu presiden ke presiden lainnya. Pemerintah Filipina mempunyai 4 titik pandang terhadap kaum Muslim Moro, yaitu:
1.             Pemerintah masih memegang pandangan kolonial yaitu Moro yang baik adalah Moro yang mati.
2.             Kaum Muslim adalah warga kelas dua di Filipina.
3.             Kaum Muslim adalah penghambat pembangunan.
4.             Masalah Moro adalah masalah integrasi, yaitu bagaimana mengintegrasikan mereka dalamarus utama (main stream) tubuh politik nasional.

Pada masa ini perjuangan Bangsa Moro memasuki babak baru dengan dibentuknya front perlawanan yang lebih terorganisir dan maju, seperti MIM, Anshar-el-Islam, MNLF, MILF, MNLF-Reformis, BMIF. Namun pada saat yang sama juga sebagai masa terpecahnya kekuatan Bangsa Moro menjadi faksi-faksi yang melemahkan perjuangan mereka secara keseluruhan. Pada awal kemerdekaan, pemerintah Filipina disibukkan dengan pemberontakan kaum komunis Hukbalahab dan Hukbong Bayan Laban Sa Hapon. Sehingga tekanan terhadap perlawanan Bangsa Moro dikurangi. Pemberontakan ini baru bisa diatasi di masa Ramon Magsaysay, menteri pertahanan pada masa pemerintahan Eipidio Qurino (1948-1953).
 MLF sebagai induk perjuangan Bangsa Moro akhirnya terpecah. Pertama, Moro National Liberation Front (MNLF) pimpinan Nurulhaj Misuari yang berideologikan nasionalis-sekuler. Kedua, Moro Islamic Liberation Front (MILF) pimpinan Salamat Hashim, seorang ulama pejuang, yang murni berideologikan Islam dan bercita-cita mendirikan negara Islam di Filipina Selatan.[6]

D.    Problema Minoritas Muslim di Filipina

Minoritas muslim yang hidup dan berkembang di Filipina menghadapi problema kelompok minoritas yaitu masyarakat muslim menjadi kelompok minoritas yang hidup berdampingan dengan penguasa/pemerintahan nonmuslim. Kelompok minoritas ini dalam dilema bagaimana melakukan rekonsiliasi antara keyakinan Islam fundamental di negara-negara yang didominasi oleh penguasa nonmuslim.
Persoalan integrasi merupakan persoalan paling mendasar bagi kedua kelompok muslim minoritas di dunia, termasuk Filipina. Kebijakan pemerintah menginginkan asimilasi dari integrasi yang tidak fair,karena membahayakan dan menghilangkan identitas mereka sebagai muslim.[7]



E.       Diskrimasi Sosial budaya Muslim di Filipina
Diskriminasi sosial budaya oleh pemerintah terhadap kaum minoritas muslim  kepada Muslim Filipina adalah Penyerobotan atas tanah leluhur, penggantian nama islam dan model perlawanannya pada awalnya berupa sabotase dan perlawanan fisik ketika ada gerakan MNLF yang dipimpin oleh Nur Misuari, meskipun akhirnya cenderung akomodatif dan lebih menggunakan diplomasi. MILF yang dipimpin oleh Hashim Salamat dan kelompok Abu Sayyaf sampai sekarang masih melakukan fisik.
Bangsa moro terbagi dalam beberapa kelompok . Mereka   berjuang dengan mengatasnamakan kepentingan bangsa Moro. Tiga terbesar adalah MNLF (Moro National Liberations Front), MILF (Moro Islamic Liberations Front) dan kelompok Abu Syyaf. Perundinagn yang selama ini dilakukan adalah antara MNLF dan pemerintah Filipina. Perlakuan pemerintah Manila terhadap Moro secara umum sangat diskriminatif, kebijakan nasional terhadap wilayah Mindanao juga diskriminatif, padahal wilayah itu juga tinggal dengan orang-orang nonmuslim dan pendudukasli (Lumad).
Perjuangan bangsa Moro dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu :
1.    Moro berjihad melawan penguasa Spanyol selama 377 tahun (1521-1898).
2.    Moro berusaha bebas dari kolonial Amerika selama 47 tahun (1898-1946).
3.    Moro melawan pemerintah Filipina (1970-sekarang).

Sejak Filipina memperoleh kemerdekaan tahun 1946 pemerintah Manila membuat program pemukiman bagi orang kriten dan Luzon dan Visayas di wilayah Moro. Pada  waktu  itu Muslim Moro tidak terganggu karena administrasi wilayah diatur oleh kalangan muslim Moro sendiri. Tetepai kemudian para pemukim kristen dengan dukungan pemerintah Manila mulai mengambil alih posisi strategis di bidang politik dan ekonomi,segera setelah mereka memenuhi tanah Moro.[8]


[1] Suhaimi, Sejarah Islam Asia Tenggara, (Pekanbaru:Unri press,2010), hal38
[2] Gusrianto, Diktat Sejarah dan PerkembanganIslamdi Asia Tenggara,  (Pekanbaru:UNRI, 2012), hal 80
[3] Gusrianto, Diktat Sejarah dan PerkembanganIslamdi Asia Tenggara,  (Pekanbaru:UNRI, 2012), hal 83
[4] Helmiati, Sejarah Islam Asia Tenggara,(pekanbaru:zanafa publishing,2011), hal 256-262
[5] Helmiati, Sejarah Islam Asia Tenggara,(Pekanbaru: Zanafa Publishing, 2011), hal  263
[6] Helmiati, Sejarah Islam Asia Tenggara,(pekanbaru:zanafa publishing,2011), hal 265
[7] Suhaimi, Sejarah Islam Asia Tenggara, (pekanbaru:Unri press,2010)hal61-62
[8] Suhaimi, Sejarah Islam Asia Tenggara, (pekanbaru:Unri press,2010)hal89